Tuesday, 8 March 2016

Putri Muslimah, setujukah?


Sumber: nessiaprincess.wordpress.com

Kemarin aku menangis. Ya, menitikkan air mata. Kau tau kenapa? Bukan karena ada yang menyakiti, bukan! Entahlah, mengapa aku tiba-tiba menangis setelah mengetahui yang sesungguhnya. Aku mendapat jawaban dari pertanyaan yang pernah hadir dipikiranku. Kau tau tentang apa? Tentang Putri Muslimah Indonesia.
Suatu hari, salah satu teman di grup whatsapp mem-posting mengenai pendaftaran ajang putri muslimah Indonesia. Kau tau syarat-syaratnya apa saja? Sebenarnya pendaftarannya di bulan April, tetapi salah satu pemenang putri muslimah indonesia tahun 2014 yang berasal dari Jakarta dan memang salah satu mahasiswa UIN Jakarta menyebarkan berita bahwa ia akan membantu para remaja yang akan mengikuti ajang tersebut. Jadi sebelum pendaftaran dibuka, ia sudah membantu teman-teman yang aku maju dalam kontes tersebut. Eh, balik lagi ke syarat-syaratnya. Ada banyak loh!
Ini dia, usia 17-25 tahun dan blm menikah, pandai mengaji, pidato, debat dalam bahasa indonesia/english, memiliki prestasi akademik/non akademik tingkat nasional, entrepreneur, punya bakat seperti tari tradisional, alat musik, dll., punya prestasi karya ilmiah, good looking, tinggi dan berat badan proporsional.
Ya, ternyata ada syarat fisiknya juga. Dari situ aku langsung berpikir. Langsung mencari-cari apakah dibenarkan adanya ajang seperti ini? Sewaktu mencari-cari informasi dengan membaca blog atau berita di internet, aku juga sempat bertanya pada beberapa orang. Pertama, teman kelasku. Dia adalah seseorang yang aktif menulis, setauku dia lulusan MAN. Dia punya banyak pengalaman, khususnya mengajar atau kesempatan sebagai volunteer. Aku tanya pendapatnya tentang ajang ini, kemudian dia menjawab, “terlepas dr syaratnya yg perfect atau enggak, menurutku ajang putri muslimah itu bagus. Alasannya jd ajang penyaluran bakat dan inspirasi bagi muslimah2 lainnya.”
Nah, yang kedua aku tanyakan pada salah seorang alumni sekolahku dulu. Sewaktu masih SMK, beliau adalah salah satu anggota rohis. Aku bertanya padanya ketika memang sedang online di FB, hehe “itung-itung” sambil menyelam aku minum air. Setauku beliau memang orang yang memiliki kepedulian terhadap dakwah Islam, dan memang aku pernah bertanya juga padanya dahulu mengenai perihal lain. Aku pernah bertanya juga pendapatnya ketika aku berada diantara orang-orang baru. Ketika aku baru masuk kuliah, seingatku ketika masih semester awal, aku lupa tepatnya kapan. Aku bukan lulusan pesantren, sedangkan UIN banyak banget yang lulusan pesantrennya, hehe.
Assalaamu'alaikum.. Kak, aku mw tanya.. maaf mengganggu waktunya..” sapaku, kemudian aku melanjutkan dengan pertanyaan, “begini, jika dibandingkan orang yg menempuh pendidikan di pesantren, bisa dibilang mreka lbh banyak mengetahui drpd kita.. apakah kita boleh minder atau seperti apa seharusnya bersikap? kemudian, apakah Allah melihat juga dari ilmu yg kita punya? tp ridho Allah ga selalu didapat oleh yg ilmunya banyak saja kan Kak? Wa'alaikumussalam..
Kemudian beliau menjawab,
“Tidak setiap orang yg berilmu lebih baik daripada orang yg hanya sedikit berilmu, ilmu bisa menjadikan kita mulia di sisi Allah n bisa juga sebaliknya. Ilmu adalah amanah, tidak hanya dicari melainkan harus dibarengi dengan pengamalannya. Orang berilmu bagaikan lentera di gelap malam, menerangi lingkungan sekitar dengan cahaya keilmuan. Namun tidak sedikit orang berilmu yg tenggelam karena tidak bisa menggunakan ilmunya, ilmu hanya dicari tetapi tidak diaplikasikan, atau mungkin ilmu dicari hanya untuk mendapatkan keuntungan materil, Allah menyebutnya sebagai orang yg menjual ayat2Nya dengan harga yg murah, contoh mubaligh2 yg menjual ilmunya hanya untuk mendapatkan ketenaran dan kekayaan. Semua kembali kepada kita, bisa atau tidak menggunakan ilmu dengan benar sehingga mendatangkan manfaat untuk orang banyak.
Tentu Allah melihat manusia dari ilmunya, Allah pun menyebutkan bahwa orang berilmu akan ditinggikan derajatnya dari orang tak berilmu. Derajat itu bisa berarti keridhoan, kekayaan, dan jabatan. Orang yg berilmu akan diridhoi oleh Allah, orang berilmu akan mudah mendapatkan kekayaan, n orang berilmu berhak atas jabatan yg tinggi karena bisa diandalkan..
Tidak perlu minder berhadapan dgn org yg lebih berilmu dri kita, seharusnya kita merasa nyaman jika ada orang yg menerangi kita yg mungkin msih harus banyak belajar.
Wallahu'alam bish showab.
Al Faqir”
Wah, dari pendapatnya itu, maka ketika ada kesempatan aku bertanya lagi kepadanya perihal ajang putri muslimah indonesia. Katanya,
Tujuan kegiatannya apa de?”
“ane baca dr blog HTI begini tujuannya Kak, Kontes ini berawal dari keprihatinan Mark Sungkar dan Ratih Sanggarwati terhadap banyaknya acara pemilihan idola atau kontes putri-putrian yang tidak islami. Kemudian lahirlah gagasan untuk menggelar kontes Pemilihan Putri Muslimah Indonesia (PPMI). Ajang ini bakal dikemas sebagai sebuah kontes untuk memilih sosok wanita Muslim yang merepresentasikan karakter Muslimah sejati. (Republika, 28/04/06). Panitia berharap ajang ini mampu melahirkan ikon Muslimah sejati, yang nantinya bisa menjadi daiyah atau mubalighah untuk memperkenalkan kehidupan Islam bagi generasinya.”
“Itu kan latar belakang konsepnya ya de, tapi kita ga tau bagaimana dgn realisasinya. Terkadang timbul celah sehingga timbul kesempatan syetan menjadikan pesertanya riya atau memperbaik penampilan n perilakunya di hadapan manusia.
Tapi menurut saya selama mudharatnya tidak lebih banyak dari maslahat boleh2 saja. Wallahu'alam..”
Nah, dari dua orang yang aku tanya, yang satu lebih bersifat mendukung, dan yang satu lagi lebih “netral” sih menurutku. Tapi aku belum cukup puas, aku penasaran, kepengin tau yang sebenarnya, sebaiknya seperti apa. Karena ketika ada sebaran di grup whatsapp lain mengenai berita yang sama, salah satu temanku bilang, “sekarang muslimah sudah tidak mahal lagi.” Wah, makin jadi rasa penasaranku untuk mengungkap ini semua..hahaha kau tau katanya kan? Katanya “mahal”. Emangnya apa sih definisi mahal menurutnya? Ketika aku tanya, dia malah bilang kalau aku tau maksud mahal itu. Yah, padahal aku kan gak tau maksud dia apa, aku tau dari segi pemikiranku aja, aku tanya untuk menambah referensi sebenarnya, atau siapa tau pemikiranku ada yang keliru..hehe
Nah, pendapat yang ketiga ini yang bikin aku menangis. Kemarin siang. Gak sampe sesenggukan sih, tapi yaa begitulah, sedih banget. Kau tau siapa yang memberi pendapat itu? Eh, maksudnya jawabannya dari siapa? Nah, jadi begini ceritanya, sewaktu aku di “majelis”, seperti biasa kita shalat dzuhur berjamaah, ternyata ada syaikh yang lagi beres-beres. Gak lama, aku dipanggil, katanya aku mau baca “ini” gak? Ternyata isinya adalah beragam alasan mengapa Miss World tidak dibenarkan untuk diikuti oleh wanita Indonesia, apalagi kalau wanita Indonesia tersebut seorang muslimah. Yaa memang sih arsip tersebut bukan tahun 2000-an, tapi sebelum itu. Aku membaca pendapat salah seorang ulama dan alasan beliau yang mengaitkannya dengan ajaran Islam, dan aku juga membaca salah satu keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan yang memang tidak mendukung kegiatan tersebut yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang ketimuran. Salah satunya ada pembahasan mengenai fisik, kalau cuma yang cantik atau yang berpenampilan menarik saja yang bisa ikut, yang gak cantik gimana dong nasibnya?
Kemudian syaikh juga menyuruhku melihat bukti-bukti berupa gambar seorang duta dari Indonesia yang mengikuti ajang Miss World? Kau tau siapa? Hmm, jangan biarkan aku menyebut namanya, tidak! aku tidak mau. Cukup kau cari tau sendiri saja ya! Dari gambar itu, aku melihat foto dia memakai baju renang, foto telanjang dada, dan...ahh sudahlah aku tidak sanggup melanjutkannya. Seketika mataku langsung berkaca-kaca. Ini benar-benar menamparku rasanya, kejadian ini seakan jadi jawaban dari pertanyaanku. Aku langsung bertanya pada syaikh, “Kalau begitu, ajang putri muslimah Indonesia bagaimana syaikh?”. Beliau dengan mantap menjawab kalau dalam islam yaa “tidak boleh”. Rasanya itu lumayan nge-jleb, dan aku langsung diam.
Sumber: duniajilbab.tumblr.com
Dari kejadian siang itu, setidaknya aku makin tau mengenai agamaku sendiri. Alhamdulillah dapat pencerahan. Masalah beda pendapat, aku kembalikan lagi ke tiap orang masing-masing. Karena setiap orang memiliki pendapat masing-masing sesuai dengan dasar mereka masing-masing. Aku tidak menyalahkan siapa pun, karena setiap orang punya alasan. Dan jika ada alasan yang tidak sesuai dengan Islam, bagiku judgement “salah” pun bukan seharusnya didasarkan atas kehendak pribadi, tetapi karena Islam yang memandang perbuatan itu salah.
Aku berharap semoga Allah senantiasa menjaga harga diri kita semua. Semoga Ia senantiasa menuntun kita untuk selalu berada dijalan-Nya. Aamiin

Monday, 7 March 2016

Lengkap Lagi, Kumpul Lagi



Hari Minggu, tepatnya tanggal 6 Maret 2016 aku pergi ke IBF (Islamic Book Fair) bersama Kak Dini, Kak Nafisah, dan Muhammad. Kak Dini dan Muhammad adalah santri al Umm, sama sepertiku. Sedangkan Kak Nafisah adalah putri ketiga “Syaikh”, panggilan yang biasa digunakan seluruh santri dan masyarakat kepada pimpinan pondok pesantren yang aku tempati saat ini. Hari itu adalah hari terakhir IBF tahun 2016. Kami merencanakan sejak seminggu sebelum IBF berakhir. Namun, semenjak hari jumat aku sudah merasa “galau”. Kamu tau kenapa? Karena hari kamis adalah pembahasan terakhir mengenai “Bab Haji”, itu berarti pertemuan selanjutnya, hari Minggu sore, adalah waktu “ulangan”.
“Kak, gimana jadi gak?” tanyaku pada Kak Dini.
Mungkin pertanyaan itu yang sering aku lontarkan kepadanya. Dia sudah paham bahwa kemungkinan hadir ke IBF sangat kecil kalau ulangan tetap diadakan. Kamu paham kan kenapa? Hehehe
Sebenarnya kalau ualangan diadakan dan kami tetap berangkat, itu berarti kami semua “nekat”. Ya, nekat! Karena belum membawa amunisi apapun untuk berperang. Ibarat kami tidak memiliki ilmu beladiri tetapi tetap saja mau berperang, hanya tangan kosong. Bisa-bisa “babak belur” kan? Hehehe
Namun, takdir berkata lain. Hehehe kata takdir, kami harus berangkat. Bahkan diizinkan sampai sore hari.
“Yeaaaahhhh, akhirnya berangkat. Berarti gak ulangan gitu, Kak? Hehehe”
Seperti itulah ekspresiku ketika Syaikh mengizinkan kami pergi ke IBF sampai sore hari, tapi tetap harus ingat bahwa batasnya adalah sebelum maghrib sudah pandai pondok. Siap Syaikh! ^^
Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami memesan Grabcar. Dan berangkat sekitar pukul 9.30 WIB. Muhammad duduk disamping Pak Supir. Aku dan yang lainnya duduk di bangku tengah. Ini pertama kalinya pergi keluar bareng santri al Umm yang rasanya seperti “jalan-jalan” hehehe. Sampai sana sekitar pukul 11 siang. Aku belum mau mencari buku-buku, tetapi ingin datang ke panggung utama dulu. Kamu tau ada apa disana? Ya, ada duet Ust. Salim A. Fillah dengan Ust. Felix Siauw. Tak apa tertinggal banyak, setidaknya masih bisa mengikuti sesi tanya jawab. Tema acara pada hari itu adalah tentang Bersamamu di Jalan Dakwah (kalau tidak salah). Materi yang bagus sayang sekali jika tidak didokumentasikan, akhirnya aku langsung mengeluarkan HP dari kantong, dan mulai merekam. Hehehe
Aku berpikir, sepertinya tahun ini, di hari terakhir IBF benar-benar sangat padat. Bukan hanya di sepanjang jalan tempat stand, tetapi di kamar mandi dan juga Food Court. Rasanya seperti dikelilingi karbondioksida saja. Mungkin ketika itu para “oksigen” sedang menonton acara di panggung utama, hehehe.
Rencanaku kesana ingin membeli buku terkait linguistik dan sejarah, tapi karena waktunya terbatas, aku hanya mendapat satu buku saja, tentang sejarah. Dua buku lainnya yang aku beli malah berkaitan dengan psikologi. Aduh jiwa kepengin belajar di jurusan psikologi masih ada aja nih..hehehe
Singkat cerita, kami pulang setelah Asar, dan sampai di pondok sekitar jam setengah 6 sore. Ketika hendak masuk kamar, aku terkejut, ada sesosok wanita yang sedang duduk. Dan parahnya lagi, Kak Dini sedang “ngobrol” bersamanya. Ih, serem rasanya.
“Itu siapa ya?” tanyaku dengan penuh penasaran dari luar kamar.
Setauku, aku hanya tinggal berdua di kamar, aku dan Kak Dini. Namun, saat itu ada yang ketiga. Kamu tau kan yang ketiga biasanya siapa? Wkwkwk Dan ternyata dia adalah manusia juga. Huh, leganya. Kamu tau dia siapa? Dia adalah salah seorang bidadari disini. Aku mengatakan ini bukan karena kemauanku, karena memang dia menganggap dirinya seperti itu, hahaha (semoga dia baca tulisan ini).
Kami biasa memanggilnya “Icha”. Nama aslinya adalah Noor Annisa. Wah, cewek banget kan? Tapi kamu tau tidak? Dia adalah wanita terkuat disini, jika dibandingkan denganku atau Kak Dini. Gimana tidak kuat, dia sanggup membawa galon yang lumayan berat itu. Dan sebab lainnya adalah karena memang dia jarang sakit. Mungkin kami akan sangat heran kalau suatu hari Nisa sakit. Semoga sehat selalu yaa Nisa, karena kamu adalah pahlawan kami...hehehe
“Heh, akhirnya pulang juga!” sapaku dengan muka ceria, “kapan sampe, Nis?”
Ternyata dia sudah sampai pondok sejak siang tadi, sekitar jam 12 siang. Dia memang sedang tidak tinggal di pondok selama lebih dari sebulan. Mahasiswi semester 6 UIN Jakarta ini sedang PKL (Praktik Kerja Lapangan) di Kota Malang. Entahlah mengapa dia memilih tempat yang jauh dari kampusnya, mungkin sekalian pulang kampung, karena memang dia berasal dari Tulungagung.
Akhirnya kami kembali lengkap. Ya, santri putri yang mukim di sini-saat ini-hanya kami bertiga. Sebelumnya ada seorang santri juga, namanya Sa’diah. Namun, sebentar lagi dia akan menikah. Uh, dia ternyata mendahului kami..hehe baarakallah lakuma yaa, Sa ^^
Oya, aku dan Kak Dini dikasih oleh-oleh dari Malang sama Nisa, keripik Mangga, kamu mau? Silakan mampir ke pondokku ya, masih banyak oleh-olehnya nih! Hehehe sekian dulu ya cerita dariku, sejak kemarin aku merasa senang karena kami kembali lengkap. Dan kamu tau bagaimana suasana kamar ketika ada Nisa? Bukan seperti kuburan! Bukan seperti suasana ujian! Bukan juga seperti suasana ketika sepertiga malam..asik..hehe Tapi harus siap-siap diri, rasanya mungkin seperti datang pada acara “dangdutan” atau nonton “konser musik rock” hahaha maaf ya Nisa, becanda ^^






























Wednesday, 2 March 2016

Sakit yang Tak Terasa



(Sumber: ask.fm)

Beberapa hari ini kondisiku sedang kurang sehat. Entahlah, mungkin terbiasa membiarkan kipas menyala ketika sedang tidur. Seringkali ia tidak dimatikan karena aku merasa “gerah”, kecuali ketika kondisiku memang sedang tidak sehat, rasanya kipas itu seperti pisau-pisau tajam yang menusuk tulang...hehehe
Mungkin manusiawi ketika tergoda dengan sesuatu, penginnya kalau sehat itu apa aja dilakuin, padahal kalau udah sakit jadi kerepotan. Jadi banyak tidur untuk memulihkan kesehatan. Kan sayang banget melewatkan beberapa saat hanya untuk mengistirahatkan diri sementara tugas tetap menunggu dengan setia. Dan mungkin cuma tugas aja yang bersedia menunggu dengan setia, #ehh #salah fokus >.< hehehe..
Tapi katanya (lupa kata siapa), wanita itu memang seperti itu, gak bisa cukup sekali untuk dinasihati (bener gak, ya?). Sering sih dinasihatin buat off-in kipas ketika tidur-bahkan nasihat oleh diri sendiri-tetapi godaannya itu loh, kadang mau melambaikan tangan aja ke kamera, kamera mana kamera? Hehehe  seperti dalam acara Dunia Lain (kalau udah gak kuat jadi peserta uji coba, biasanya melambaikan tangan untuk menandakan bahwa peserta menyerah dengan tantangannya). Kalau aku, karena udah gak kuat dengan godaan kipas ketika gerah, penginnya dinyalain aja tanpa pikir panjang. Dan efeknya yaa begini, catch cold. Mungkin udah sering temen-temen deketku dengar kabar kalau aku mendadak kurang sehat karena “masuk angin”.
Atau penyebab lainnya adalah karena jadi motorcyclist. Padahal kampus deket, bisa dicapai pake kaki aja, tetapi tetep aja naik motor. Makanya waktu itu pernah diminta umi di pondok buat berhenti naik motor ke kampus selama seminggu. Dan cara ini berhasil! Makanya tiap ngerasa badan udah gak enak, aku ke kampus jalan kaki..hehehe
Biasanya kalau udah masuk angin, kepala jadi pusing (“pucing pala ebi” kalau kata anak jaman sekarang). Bingung deh kalau lagi begitu trus banyak tugas. Jadi butuh disemangatin seseorang...wkwkwk (aduh anak muda banget pembahasannya). Tapi semenjak di pondok, sekarang-sekarang suka maksain diri sendiri untuk tetep ngaji walaupun keadaan lagi kurang sehat. Dan itu rasanya #jleb. Berusaha melawan diri sendiri, dan cuma mikir “yang penting ngaji, mau masuk atau ngga materinya, yang penting ngaji, yang penting hadir”.
Tau gak? beberapa kali ketika aku sedang kurang sehat, aku ngerasa kenapa ketika maksain ngaji aku gak merasakan banget sakitnya. Kalau ada yang lucu yaa  ketawa, kalau ada yang gak ngerti yaa nanya, ketika disana aku ngerasa gak terlalu terasa sakitnya. Bahkan kadang gak terasa sama sekali. Seakan ngaji itu membuat sembuh. Serius! Buktinya terjadi malam ini (sekalian curhat tentang hari ini ya...hehe). Tadi sempet “lepek” baju dan rok karena kehujanan. Dari tadi pagi masih merasa kurang sehat sebenernya, ditambah kehujanan kan makin “sesuatu” jadinya. Udah gitu ngurus pengajuan dospem yang cukup menguji kesabaran, dan harus ke bank untuk transfer uang (yang antriannya cukup panjang). Akhirnya sampai asrama langsung tidur, bangun-bangun migrain. Oh nooooo! Kepikiran ODOP juga, belum ngerjain. Kalau ngerjain dengan kondisi kurang sehat jadi bingung sendiri. Seakan harus mendaki gunung untuk mencari si inspirasi. Sekarang aja masih bingung, makanya aku curhat aja ya...hehehe
Walaupun migrain, aku paksain ngaji, malam tadi ngaji shorof. Dan setelah ngaji, taraaaaaa!!! Migrain itu semakin memudar, menghilang, menjauh, dan me- me- lainnya...hehe alhamdulillah. Ketika terjadi seperti ini, aku berpikir, apa yang membuat hal ini terjadi? Apakah karena berkahnya tinggal di pesantren? Berkahnya mengaji? Atau karena fokus pada menikmati aktivitas? Bagi orang-orang yang pernah tinggal atau belajar di pondok pesantren, pasti paham mengenai berkahnya tinggal di pesantren. Tapi yang aku mau bahas bukan tentang ini, tetapi tentang fokus kita pada setiap aktivitas kita.
Jujur aja, ketika aku menikmati pengajian malam ini, sakit itu serasa tidak terasa. Aku mencoba masuk sepenuhnya kedalam aktivitas tersebut. Aku menikmatinya. Aku berusaha senang dengannya. Dan masya Allah (kehendak Allah), migrainnya sudah tak kurasakan lagi. Walaupun sebelumnya aku sudah minum obat, tapi apakah cukup 2 jam untuk memulihkan kesehatan? Biasanya obat warung yang aku minum terasa fungsinya setelah aku bangun dari tidur malam. Wallahu a’lam (hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu).
Tapi gak cuma hari ini aja sebenarnya, sewaktu mengaji faroid (ilmu waris), pernah suatu hari benar-benar menikmati, yang begitu terasa beda suasana waktu itu. Dan memang gak terlihat seperti orang sakit. Mungkinkah ini makna mengapa Allah menyuruh kita senantiasa bersyukur? Bersyukur atas segala pemberian-Nya? Senang atau ridha atas segala pemberian-Nya? Ah, pantas saja Rasulullah jarang sekali sakit, karena beliau adalah ahli syukur, orang yang pandai bersyukur. Ah, pantas saja kita diperintahkan untuk menyembunyikan rasa sakit kita dari orang lain. Mungkinkah Allah bermaksud agar kita fokus dengan aktivitas kita? Bukan dengan sakit yang diderita.
Oya, satu lagi. Biasanya kondisiku lebih baik juga ketika bertemu dengan orang yang aku senangi, atau ketika ada seorang yang melihatku dengan senyum loh..hehe (hayoo mikirnya ke siapa? Wkwkwk). Hmm, pantas saja salah satu hak muslim adalah menjenguk saudaranya yang sakit. Biasanya dengan sentuhan emosional dapat membantunya memulihkan kesehatan. Karena yang aku tau, manusia itu makhluk yang beremosi, apalagi wanita...hahaha
Udah ya, udah dulu curhatnya. Malam ini cukup mencurahkan hati aja. Dan yang terpenting target One Day One Post tercapai, karena ini tentang komitemen..uhh beratnya...ckckck semoga temen-temen yang lagi sakit atau kurang sehat, kondisinya semakin membaik ya ^^
***
Karena Ia tidak akan mengambil sesuatu,
kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik.
 \(^o^)/

Tuesday, 1 March 2016

Inikah Cinta?


(Sumber: terselubung.in)

 Beberapa hari ini Suci sedang kurang sehat. Seringkali ia terlihat pucat. Tubuhnya menggambarkan bahwa ia tidak seceria biasanya. Baginya, sakit itu tanda cinta dari Sang Kekasih. Ia tidak menganggap itu berupa musibah, tetapi tanda bahwa ia harus lebih dekat dengan kekasihnya.
Suci seringkali berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan aktivitasnya, kemudian setelah selesai ia berusaha mencari waktu untuk beristirahat sejenak. Bukan karena ia ingin bersantai ria, tapi karena ia tahu banyak hal yang harus segera diselesaikan. Diselesaikan ketika kondisinya baik-baik saja. Ia tahu bahwa yang terjadi padanya adalah tanda bahwa ia akan semakin dekat dengan kekasihnya.

Tuhan...
Aku tau sakit ini baik bagiku
Aku tau karena ini aku bisa lebih mengingatmu
Aku tau dengan ini Kau mengampuni dosa-dosaku
Maka jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang sabar
     Tuhan...
     Jika cinta belum kurangkai untuk-Mu
     Jadikanlah aku selalu berjalan menuju-Mu
     Jika hanya nikmat yang aku terima dari-Mu
     Jadikanlah aku mengerti bahwa sakit juga nikmat dari-Mu

Suatu malam, ia menangis di dalam kamar. Ia teringat akan mantan suaminya. Bukan karena merindukan ikatan itu terjalin kembali, tetapi karena ia semakin paham bahwa cinta itu menerima. Bahkan untuk hal-hal yang tidak disukai.
“Dulu, semenjak kita belum menikah, kau bilang kalau kau cinta padaku? Mana buktinya, Mas?” bentak Suci.
“Tapi aku gak mau punya istri penyakitan, capek!” bantah suaminya.
“Oh, jadi kau hanya cinta kecantikanku saja? Ingat ya, Mas, aku lebih memilihmu dibanding dia. Tapi, begini balasannya? Kau selingkuh dengannya ketika kondisiku seperti ini? Oke, kita selesai,” kata Suci dengan penuh air mata.
Ketika itu, ia sangat kecewa dengan orang yang begitu ia cinta. Namun, ia sudah memaafkan sikap mantan suaminya. Ia pun menjalani kehidupan bersama orangtuanya kembali. Beberapa tahun, ia menjalani pengobatan dan akhirnya dapat sembuh dari penyakitnya.
Beberapa hari yang lalu, ada seorang pria-teman lamanya-yang ingin menikah dengannya. Suci bertanya dengan pertanyaan sederhana.
“Mengapa kau ingin menikah denganku?” tanyanya dengan sikap biasa.
“Karena cinta,” jawab pria itu.
“Apa yang kau cinta dariku? Hartaku? Fisikku? Kelebihanku?” tanyanya penasaran, karena ia khawatir kalau pria yang ingin menikah dengannya hanya karena kecantikan atau kekayaannya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” pria itu menaikkan nadanya, karena ia tidak suka jika dicurigai seperti itu.
“Sudahlah, aku tidak butuh pria yang hanya cinta pada kelebihanku saja!” jawabnya.
***

Kini ia semakin memahami makna cinta. Ia belajar dari masa lalunya. Di dalam hati ia berkata,
Tuhan...
Aku tau sakit ini baik bagiku
Aku tidak melihat penyakit ini sebagai derita
Aku tidak melihat seberapa besar penyakit kuderita
Karena yang memberikan adalah Engkau, Sang Pecinta
Tuhan...
Kini aku tau
Bahwa cinta tidak melihat bagaimana yang dicinta
Bahwa cinta tidak melihat seperti apa yang dicinta
Tetapi cinta melihat “siapa” yang dicinta