Showing posts with label hijrah. Show all posts
Showing posts with label hijrah. Show all posts

Friday, 18 March 2016

Buku Terbaik Bagiku: Terapi Berpikir Positif (1)



Kemuliaan manusia terletak pada pikirannya.
(Pascal)


Hari ini aku ingin menceritakan buku yang baru aku beli. Ya, aku baru membelinya ketika ada Islamic Book Fair 2016 lalu. Sebenarnya aku tidak ada niat untuk membeli buku ini, sedari awal aku hanya ingin membeli buku sejarah dan linguistik. Eh, ketemu sama salah satu stand yang terdiri dari buku-buku motivasi atau character building, pokoknya yang berhubungan untuk perbaikan kepribadian. Nah, ternyata pas ditanya harganya, ada diskon 50% untuk setiap buku..hehe lumayan lah. Akhirnya aku pilah-pilih buku apa aja yang akan aku beli. Dan akhirnya ketemu! Judulnya Terapi Berpikir Positif.
Sebenarnya buku ini tergolong kedalam buku yang “agak jadul”, tapi keren! Kamu tau kenapa? Karena ini udah dicetak sebanyak “XXXIV”, terakhir cetak pada tahun 2015. Aku juga sudah pernah melihatnya di perpustakaan kampus. Tapi belum pernah meminjamnya. Dan sewaktu di IBF, ada kesempatan untuk membelinya,  I took it. Well, aku tidak menyesal sama sekali. Dan menurutku uang yang aku keluarkan memang tidak sebanding dengan isi yang ada didalamnya. Yaiyalah, ilmu kan mahal, mungkin harta yang aku punya saat ini tidak akan cukup untuk membeli ilmu. Kamu percaya kan kalau guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa? Kamu tau kenapa? Ya, karena ilmu itu tidak bisa dibayar. Guru adalah pahlawan karena mereka mengabdi. Gaji yang mereka terima tidak sebanding dengan ilmu yang mereka ajarkan. Ustadz-ku biasanya menamakan uang bulanan yang guru terima adalah bisyaroh ‘hadiah’, bukan gaji (karena gaji adalah sesuatu yang diterima setelah melakukan pekerjaan atau bekerja sedangkan mengajar adalah bentuk pengabdian).
Balik lagi ke pembahasan sebelumnya. Buku yang aku beli ini termasuk International Bestseller. Kamu tau siapa yang menulisnya? Hehe bisa dilihat dari cover ya? Yupz, namanya adalah Dr. Ibrahim Elfiky. Buku ini memang sesuai banget sama judulnya, yaitu memang seperti “terapi”. Aku sudah mencobanya, walaupun belum sepenuhnya aku praktikan tetapi manfaatnya memang sudah dapat aku rasakan. Alhamdulillah. Banyak pertanyaan yang ada dibenakku sebelumnya akhirnya aku temukan jawabannya di dalam buku ini. Atau bahkan kejadian-kejadian yang aku spekulasi alasan-alasannya ternyata aku temukan juga di dalam buku ini. Buku ini benar-benar memberikan gambaran yang jelas mengapa kita perlu berpikir positif dan bagaimana strategi untuk selalu berpikir positif. Bagi kamu yang muslim, mungkin kamu juga akan menemukan alasan mengapa Allah ingin kita sebagai umat Islam agar tawakkal dan optimis terhadap-Nya. Bahkan pada bagian awal buku ini terlihat jelas ayat al-Qur’an surah adz-Dzariyat ayat 21.
Bagian Pertama: Kekuatan Pikiran
Pada bagian ini dijelaskan pengaruh pikiran dalam kehidupan manusia. Kamu tau pikiran itu mempengaruhi apa saja? Coba sebutkan! Atau sudah penasaran? Hehe oke oke, jadi begini yaa... aku akan kasih tau logika berpikirnya dahulu sebelum aku ceritakan lebih jauh tentang buku ini. Ada salah satu kisah menarik yang diceritakan sang penulis, aku mengutipnya dari buku ini halaman 4-5, begini ceritanya...
Ketika Anda merasa lapar dan di hadapan Anda tersaji tiga menu: makanan rumahan, makanan hotel berbintang lima, dan makanan dari keranjang sampah. Mana yang akan Anda pilih?
Ketika pertanyaan ini saya lontarkan dalam seminar dan pelatihan yang saya gelar, tak seorang pun memilih makanan dari keranjang sampah. Ada yang memilih makanan rumahan dan ada yang memilih makanan hotel berbintang. Mengapa demikian? Karena, setiap orang sangat memerhatikan kelangsungan hidupnya. Tak seorang pun memilih sesuatu yang berdampak negatif bagi kelangsungan hidupnya.
Jika manusia benar-benar tidak ingin meletakkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuhnya, mengapa ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang berpengaruh negatif pada setiap aspek hidupnya, termasuk kesehatan jiwa dan raganya? Mengapa ia meberi gizi pikirannya dari keranjang sampah? Hal ini bergantung pada proses sebelumnya: orangtua, keluarga, lingkungan, sekolah, dan media informasi.
Jadi, kita hampir tidak punya pilihan gizi untuk pikiran dan proses perkembangannya. Kini saatnya kita memilih berbagai pikiran seperti halnya kita memilih makanan yang kita santap dan pakaian yang kita kenakan. Untuk mewujudkan semua itu, kita harus tetap tawakal pada Allah. Kita mulai dari memahami arti pikiran dan kekuatannya. Pikiran adalah kekuatan. Dalam al-Qur’an Allah SWT. membedakan antara orang yang berilmu dan yang tidak. Dia berfirman, (terjemahan) Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar: 9).
Nah, mengapa sih pikiran juga harus diseleraskan dengan makanan atau pakaian? Mengapa kita harus memilah-milih pikiran yang kita pilih untuk kita pikirkan? Karena, (1) Pikiran Memiliki Proses yang Kuat. Kita mungkin setuju kalau orangtua, keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media massa, dan diri sendiri memiliki peran untuk mempengaruhi pikiran kita. Namun, yang terkuat dari ketujuh bagian tersebut adalah “diri sendiri”. Maka, kita perlu berhati-hati apakah yang kita pikir terhadap diri sendiri atau orang lain itu perlu kita masukan ke dalam pikiran? Karena jika kita terima dan fokus terhadapnya, tidak lama kita akan meyakini itu menjadi sebuah kebenaran. Contohnya, kalau ada orang yang bilang kamu itu bodoh. Bagaimana pendapatmu? Kalau aku sih “pura-pura gak denger” saja..hehe maksudnya, jangan diambil hati. Biarkan kata-kata itu pergi berlalu, berhenti untuk fokus memikirkan kata-kata itu. Anggap saja itu jebakan pikiran. Dan jangan sampai kamu berpikir bahwa kamu bodoh. Bagiku, tidak ada manusia yang bodoh, yang ada adalah manusia yang tahu atau belum tahu. Manusia yang mau belajar atau tidak. Nah, selanjutnya bagaimana jika ada yang memujimu pintar, misalnya. Kalau ini terserah kamu deh mau gimana, hehe yang jelas kita tetap harus berlindung kepada Allah. Karena sejatinya segala nikmat yang kita terima adalah dari-Nya. Kalau pandangan orang lain baik kepada kita, semoga kita lebih baik dari yang mereka pikirkan. Tetapi jika pandangan orang lain buruk kepada kita, semoga Allah senantiasa membuat kita lebih baik dari yang mereka pikirkan.
Selanjutnya adalah (2) Pikiran Membuat Arsip Memori dalam Akal. Nah, mungkin ini penting sekali untuk para orangtua bahwa setiap anak dilahirkan dengan kejernihan otak. Sejak lahir, anak-anak itu bersih. Kemudian, orangtua mengajaknya berkomunikasi. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa setiap kali mengetahui pengertian lain dari sebuah kata, terbentuklah file tersendiri untuk pengertian tersebut. Ketika seorang anak mendapatkan pengalaman dalam pengertian tertentu, akalnya akan merekam pengalaman itu dalam file khusus. Makanya, ada banyak kejadian anak-anak sejak usia dini sudah pandai menghafal al-Qur’an. Karena memang usia 7 tahun pertama merupakan usia emas bagi setiap anak. Apa yang mereka lihat dan dengar akan terekam. Akhirnya berbuah menjadi memori. Yang aku tau, dampak dari pengasuhan pada masa emas ini akan terlihat ketika anak sudah besar. Miris sekali ketika melihat ada anak-anak yang dibohongi oleh ibu atau siapa saja hanya untuk sekadar mencandainya. Ya, mungkin maksud kita adalah mencandainya dan menganggap itu hal biasa. Tetapi, bukankah itu merupakan pendidikan bagi sang anak? Jangan salahkan mereka jika nanti akan mudah membohongi orangtuanya. Naudzubillah.
Hmm, aku cukup sedih ketika anak-anak usia emas ini sudah “dibentak”, “dipukuli”, dan beragam tindak kekerasan lainnya. Aku berpikir, bagaimana nanti ketika ia besar? Bukankah ia akan meniru perilaku orangtuanya? Semoga semakin kesini banyak para orangtua yang lebih memahami cara mendidik anak dengan baik. Jika memang sudah terlanjur demikian, semoga ketika besar, anak-anak yang terlahir dengan pendidikan yang “kurang beruntung” akan dapat memilih jalan hidupnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Do’akan aku juga ya, semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik, karena ini juga merupakan bekal..hehe semoga jika memang nanti bisa merasakan menjadi ibu, aku bisa menjadi pendidik yang baik. Kamu juga ^^, in syaa Allah.
Hmm, sudah dulu ya? Sepertinya pembahasan ini masih ingin aku teruskan sampai beberapa episode..hehe gapapa kan? Bersambung ya... insya Allah nanti aku lanjutkan, masih bagian pertama loh! Don’t miss it! :)
Wallahu a’lam

Wednesday, 9 March 2016

Pilih yang Baik


Sumber: www.pinterest.com

Hidup adalah pilihan. Kamu setuju? Karena setiap hari kita memilih mana saja yang akan kita kerjakan. Kita pun memilih mana saja yang kita pikirkan. Kita memilih kemana kaki melangkah, kemana tangan mengayun, kemana mata memandang, kemana telinga mendengar, dan segala sesuatunya adalah berdasarkan pilihan kita sendiri.
Dalam setiap proses kehidupan manusia, tidak terlepas dari beragam rasa. Karena hakikatnya Tuhan tidak hanya menghadirkan satu rasa, tapi juga lawan dari rasa tersebut. Misalnya, senang dan sedih, terang dan gelap, malam dan siang, hidup dan mati, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua rasa yang kita terima pun merupakan pilihan, entah kita yang memilih atau Tuhan yang memilihkan untuk kita. Kalaupun memang Tuhan sendiri yang memilihkan untuk kita, berarti itulah yang terbaik untuk kita. Kalau berupa kebaikan, berarti kita pantas mendapatkan itu karena mungkin usaha kita dan do’a kita kepada Tuhan. Tetapi jika yang kita dapatkan adalah sebaliknya, bisa jadi memang itu yang terbaik untuk kita juga, karena apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang menurut kita tidak baik belum tentu tidak baik menurut Tuhan. Ia Maha Mengetahui daripada kita. Kamu tau kan ayat itu? :)
Nah, aku ingin bertanya lagi padamu. Menurutmu orang baik itu apa? Yang bagaimana? Yang seperti apa? Apakah yang selalu memberi tanpa meminta? Yang menjadi pendengar yang baik? Yang mengerti ilmu agama?  Yang ahli ibadah? Atau kamu memiliki definisi sendiri tentang orang baik itu seperti apa? Hayoo silakan dijawab! ^^
Hmm, aku juga masih belum tau nih. Tapi aku berusaha cari tau, yeah! Kamu pernah dengar tidak kalau kita diperintahkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan? Pernah kan? Pasti pernah! Kalau belum pernah, aku kasih tau yaa..hehe sebenarnya memang semua agama mengajarkan untuk berbuat kebaikan, bukan? Bahkan Islam pun demikian, yaiyalah! Hehe setauku, kita diperintahkan untuk membalas kebaikan-minimal-dengan kebaikan yang serupa atau lebih dari itu. Dan kita juga diperintahkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan, walaupun sebenarnya balasan keburukan adalah keburukan yang serupa tetapi kita tidak diperintahkan membalas dengan keburukan juga. Kamu tau kenapa?
Aku sempat berpikir kenapa ya seperti itu? Kalau dikaitkan dengan surah asy-Syams, didalamnya dijelaskan bahwa manusia diberikan dua sifat yang saling berkebalikan, dan barangsiapa yang mensucikan dirinya maka itu lebih baik baginya. Maka bisa disimpulkan yang memilih jalan taqwa adalah pilihan yang baik dan benar. Sehingga benarlah ungkapan bahwa “hidup adalah pilihan”, karena pada hakikatnya Tuhan sudah memberikan kepada kita dua jalan, tinggal pilih jalan mana yang akan kita tempuh.
Aku akan mengambil contoh, ketika kita dikhianati, ditertawakan, disepelekan, direndahkan, atau dibuat marah oleh orang lain, maka reaksi yang akan kita berikan padanya adalah pilihan kita. Jalan mana yang akan kita lalui ketika kita “dihalangi” oleh perilaku seperti itu? Cara mana yang akan kita pilih? Jalan atau pilihan orang-orang yang tidak bertaqwa atau sebaliknya? Yang kita tau, orang-orang baik pasti memilih jalan yang baik, bukankah begitu? Maka jika harus memilih pasti kita memilih yang baik, namun terkadang atau seringkali kita belum bisa membuktikan dalam kehidupan nyata. Seringkali kita malah menyerang balik orang yang menyerang kita, kita menjelek-jelekan kembali orang yang menjelek-jelekan kita, kita membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan atau malah lebih besar lagi. Astaghfirullah.
Seringkali ketika kita dilecehkan atau merasa diabaikan, yang kita lakukan malah perilaku yang membuat kita semakin menjauh dari mereka. Bahkan bisa saja kita mendiamkan mereka lebih dari tiga hari. Kalau sudah begini, sudahkah kita melangkah untuk menjadi orang baik? Karena yang keluar dari tubuh atau pikiran kita saja bukan hal yang baik. Mana pantas kita menganggap orang lain “buruk” padahal kita sendiri saja bukan orang baik. Tapi setidaknya kita memohon kepada Allah, semoga Ia memberikan setetes asma-Nya ‘nama-Nya’ agar kita juga mampu menjadi orang baik. Aamiin.
Sumber: rahmanda19.wordpress.com
Allah itu Maha Baik, jika kita meminta pasti dikasih. Tapi (tetap) kita harus berusaha memantaskan diri agar pantas diberi. Misalnya, jika kita ingin berubah untuk menjadi orang baik, yang pertama harus dilakukan adalah mengapa kita ingin menjadi orang baik? Kita (1) harus tau alasannya. Kemudian, karena output sesuai dengan input maka sebisa mungkin (2) jangan sampai kita berfokus pada pikiran-pikiran negatif. Jika hal negatif terjadi pada diri kita, kita harus (3) terima dan berusaha mencari hikmah dibalik itu semua, kemudian (4) pikirkan hal positif mengenai orang itu atau kejadian itu. (5) Jangan pernah berpikir sulit, semua hal itu mudah karena banyak yang sudah membuktikan, bukan? So, yakin! It is the key.
Aku tau kamu, aku, kita semua memiliki dasar untuk menjadi sebaik-baik manusia, maka pilihlah itu. Di dunia ini tidak ada orang yang tidak baik, yang ada adalah orang yang salah memilih jalan, maka dari itu Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam agar bisa menunjukkan kepada umat manusia mana jalan yang benar yang harus dilalui. Dan kita harus yakin, bahwa Allah memiliki banyak nama-nama yang baik, maka mintalah agar Ia memberikan kepada kita walaupun hanya setetes. Jadi, bagi orang yang sudah melakukan kebaikan, berkat kasih sayang Allah lah kamu sanggup melakukan kebaikan itu. Karena pada hakikatnya manusia adalah faqir, miskin, tidak punya apa-apa. Kalau meminjam kata-kata seseorang, “Semoga Allah senantiasa memelukmu.” :) 
Sumber: pmvbm.blogspot.co.id